Blog

Awas Corporate Stockholm Syndrome

- 10 Jan 2020 by Yehezkiel Faoma Taslim

Dalam perampokan bank yang gagal, seorang kriminal mengambil empat orang sandera. Mereka ditahan selama hampir seminggu, diancam dengan senjata dan diperlakukan dengan kasar. Setelah mereka dibebaskan polisi dan kriminal berdiri di pengadilan, keempat sandera malah ingin membela penyandera mereka dan bahkan galang dana untuk biaya hukumnya. Ini terjadi di Stockholm, 1973 dan keanehannya mendorong para ahli psikologi untuk memberi nama Stockholm syndrome.

Beberapa kasus penculikan dan penyanderaan setelahnya juga menunjukkan keanehan yang sama, dimana korban bersimpati dengan penculik walaupun setelah menerima kekerasan fisik maupun mental.

Lebih dari itu, mentalitas yang bersimpati dengan orang yang berbuat jahat sebenarnya cukup umum di dalam kantor, dan fenomena ini dinamai Corporate Stockholm Syndrome. Apa artinya? Bagaimana orang dapat berakhir berpikir seperti ini? Dan jika kamu menemukan dirimu terjerat di situasi ini, bagaimana caranya untuk membebaskan diri?

Apa itu Stockholm syndrome?

Stockholm syndrome adalah situasi dimana sandera menjalin hubungan yang kuat dengan penyandera, yang merupakan reaksi yang irasional terhadap ancaman. Hubungan emosional ini berasal dari mekanisme pertahanan yang terpicu untuk mempertahankan hidup — kalau aku bersikap baik dengan orang jahat ini, aku mungkin dibiarkan hidup. Stockholm syndrome kemudian terbentuk ketika sang korban, khawatir bahwa kelakuan mereka terlihat palsu, mulai mempercayai ketertarikan mereka kepada penyandera.

Kalau aku bersikap baik pada penjahat ini, aku mungkin dibiarkan hidup.

Seperti yang kita ketahui dari artikel sebelumnya tentang psychological safety, mekanisme pertahanan seperti ini terpicu setiap kali menghadapi ancaman harian. Tempat kerja dengan budaya yang toxic mirip dengan situasi bertahan hidup yang mengerikan, dan karyawan yang merasa disandera menganggap dirinya tidak mempunyai pilihan kecuali menuruti bos yang bully, sehingga membentuk Corporate Stockholm Syndrome.

Corporate Stockholm Syndrome

Corporate Stockholm Syndrome adalah ketika karyawan, yang telah diperlakukan dengan buruk atau menjadi korban bullying, membentuk rasa ikatan dan kesetiaan yang sangat kuat pada orang yang memperlakukannya seperti itu. Karyawan ini akan dengan senang hati memikul atau membenarkan perlakuan buruk yang diterima, bahkan membela pelaku.

Karyawan membentuk ikatan dan kesetiaan kuat pada orang yang berperilaku buruk padanya.

Mengapa? Untuk melindungi hidup, atau penghidupan (mata pencaharian) yang disandera oleh bos, mirip dengan sandera yang sebenarnya di Stockholm, yang merasa tak berdaya dalam situasi tersebut.

Comic of an animator suffering Stockholm syndrome, claiming it was for experience and for exposure. Credit by My Medicated Cartoon Life.

Sumber: My Medicated Cartoon Life

Kalau itu terdengar sulit dipercaya, coba ingat-ingat saat kamu pernah ngobrol dengan teman yang benci sama pekerjaannya. Lalu lihat reaksinya saat kamu suruh dia keluar: tiba-tiba muncul banyak alasan untuk menetap — gajinya kan lumayan, gak parah-parah banget kok, resume kosong bisa masalah, etc.

Atau bahkan kamu sendiri pernah punya percakapan yang mirip. Jika benar, maka bisa saja kamu ada risiko Corporate Stockholm Syndrome. Apa saja gejalanya dan apa yang bisa kamu lakukan?

Apa gejalanya?

1. Ada ancaman

Kurangnya psychological safety menciptakan lingkungan kerja yang penuh ancaman dan bahaya: budaya yang toxic, politik kantor, konflik antar kubu, tidak ada rasa percaya, dan status quo yang mendorong perilaku negatif. Budaya kerja yang toxic seperti ini biasanya datang dari atas — bos yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk memegang ketat kendali atas bawahan.

Atasan tipe micromanager suka memantau karyawan seperti elang dan mengatur aspek sekecil apapun dari pekerjaan mereka — apa yang dikerjakan atau siapa yang diajak ngomong harus membutuhkan izin dari bos. Seperti di situasi penyanderaan dimana penculik mendikte waktu makan dan bahkan kamar mandi, kontrol yang berlebihan ini akan kebutuhan sederhana berakibat ke infantilization — karyawan merasa bahwa pekerjaan mereka berada di tangan bos yang lebih berkuasa.

Hasilnya adalah kombinasi yang unik antara penindasan dan ketergantungan. Di satu sisi, kamu merasa terikat, terkekang, dan tertekan, namun di sisi lain, di pendindas juga adalah yang “memberikan” pekerjaan (gaji) dan semua izin yang kamu butuhkan.

2. Butuh bertahan hidup

Saat berhadapan dengan seseorang yang tidak bisa dilawan, satu-satunya pilihanmu adalah untuk bertahan hidup apapun caranya. Dimana sandera akan mencoba untuk menenangkan penculik agar tidak dilukai, Corporate Stockholm Syndrome melibatkan hal yang tidak jauh beda. Karyawan akan semata-mata menerima penindasan yang dialami dan selalu ikut bos agar, harapannya, dia perlakuan buruk ini berhenti.

Saat kita masuk semakin dalam ke mentalitas ini, hal yang aneh pun terjadi: karyawan mulai melindungi penindas mereka. Jika ada yang berdiri dan mempertanyakan perilaku buruk, karyawan malah mengambil pihak si bully dan menyalahkan orang yang mencoba untuk memperbaiki status quo.

Kesetiaan yang “sesat” ini dapat dihubungkan dengan kesalahpahaman akan kebaikan hati dari penindas. Setelah begitu banyak menerima perilaku buruk, karyawan mulai terbiasa dan melihatnya sebagai ‘normal’. Lalu, ketika bos yang buruk lupa memberi hukuman atau reda sedikit, “kebaikan hati” tersebut akan terlihat berlebihan.

3. Rasionalisasi

Saat kamu tidak punya pilihan selain menerima perilaku buruk di kantor, sekalian saja membenarkannya dan mungkin tidak akan terlihat terlalu parah. Karyawan mulai membenarkan atau menyangkal segala caci maki dan ketidakadilan yang diterima: ini kesempatan untuk belajar, mungkin bukan itu maksudnya, pasti ada alasan di balik ini, ini hanya bagian dari pekerjaan, dan lain-lain.

Jika kamu terus menerus berpikir seperti ini, lambat laun kamu pun akan mulai percaya. Saat sandera khawatir bahwa sikap baik mereka dapat terlihat palsu, mereka mulai menganggapnya serius. Walaupun mereka tahu ini hanyalah cara untuk bertahan hidup, tidak butuh waktu lama untuk membentuk hubungan sentimental yang nyata.

Hal yang sama berlaku pada karyawan. Setelah rasionalisasi penindasan begitu lama, mereka mulai percaya dengan kebohongan diri sendiri: bahwa perilaku ini memang yang terbaik untuk perusahaan, bahwa ini hanya bagian dari pekerjaan, bahwa ini adalah hal yang normal.

Beauty and the Beast (Disney, 1991) is often thought as a case of Stockholm syndrome. In this scene, Belle and Beast sits down one evening on the porch.

Mungkinkah ini Stockholm syndrome?

4. Tidak ada jalan keluar

Gejala yang paling menonjol dari Corporate Stockholm Syndrome adalah persepsi ketidakberdayaan. Saat penindasan datang dari atas hirarki perusahaan, karyawan merasa tidak berdaya melawan otoritas. Hal ini memang benar di situasi penyanderaan — penculik mempunyai senjata. Namun berbeda faktanya di lingkungan kerja, bahkan dengan budaya yang toxic sekalipun.

Ini hanyalah kerja, bukan penyanderaan. Kamu tidak ditahan di bawah todongan senjata. Kamu selalu punya pilihan, pasti ada jalan keluar. Inilah yang sering dilupakan orang sehingga membebaskan diri merasa sulit sekali. Namun jika kamu ingat kamu mampu memilih nasibmu sendiri, maka kamu sudah mulai membebaskan diri dari jalan pikir yang tidak sehat ini.

Bagaimana cara bebas?

1. Pinjam perspektif

Saat kamu membenarkan penindasan yang diterima — atau bahkan kamu tidak menyadarinya, namun merasa ada yang salah — coba bicara dengan orang lain dan dapatkan perspektif dari luar. Teman, keluarga, atau psikiater perusahaan dapat memberi pandangan yang jujur dan jelas dan membantumu untuk melihat ketidakadilan yang berlangsung. Setelah kamu mendapatkan gambaran yang sebenarnya, akan lebih mudah untuk membebaskan diri dari Corporate Stockholm Syndrome.

2. Hadapi

Langsung hadapi orang yang memberimu perilaku buruk dan ajak dia bicara. Biasanya, bullying terjadi karena korban tetap pasif. Jika kamu dapat menunjukkan bahwa kamu bisa membela diri, itu sendiri bisa jadi cukup untuk merubah situasi. Bawa masalahnya dan bilang langsung apa yang tidak kamu suka.

Jika berubah menjadi konflik (kemungkinan besar), tetap ingat untuk tenang. Jangan lawan api dengan api, karena menahan diri akan berguna ketika konfrontasi ini ditingkatkan untuk melibatkan pihak luar.

3. Eskalasi

Perlakuan buruk dan tidak adil di tempat kerja, verbal maupun berhubungan dengan performa, adalah isu yang nyata dan serius. Inilah dimana HR berperan. Kamu tidak disandera dan kamu punya cara untuk melawan. Jika diskusi tidak membawa hasil, buat komplain formal dan cari bantuan dari saluran resmi perusahaan.

Tindakan eskalasi seperti ini adalah ultimatum dan pilihan terakhir. Walaupun biasanya berhasil, jika budaya perusahaan terlalu toxic dan eskalasi hanya akan membawa masalah buatmu, maka satu-satunya pilihan adalah untuk…

4. Move on

Hidup itu terlalu pendek untuk pekerjaan yang tidak jelas. Kita selalu bilang bahwa kerja mengambil lebih dari sepertiga kehidupan kita, jadi tidak ada intinya menghabiskan 33% itu di tempat yang membuatmu merasa tersiksa. Pekerjaan tidak seharusnya membawa risiko kesehatan, baik fisik maupun mental. Ketahui kapan titik harus keluar, dan bahwa tidak apa-apa untuk berpindah ke lingkungan yang lebih baik.

Tapi nanti jadi pengangguran dong? Kalau CV kosong gimana? Selalu ada pekerjaan lain di luar sana — kamu hanya perlu mencari yang paling tepat untukmu. Jelaskan pada recruiter mengapa kamu keluar, bahwa budaya kerja yang sebelumnya toxic, dan bagaimana kamu mencoba untuk memperbaikinya. Pertanyaan yang lebih baik kamu tanya adalah ini: jika situasi tetap akan memburuk, apakah sepadan untuk menetap?

Pencegahan adalah obat yang terbaik

Kami sadar bahwa Corporate Stockholm Syndrome adalah isu yang serius. Daripada bersusah payah mencoba membebaskan diri, lebih baik untuk tidak mengalaminya dari awal. Inilah mengapa kami membuat Dreamtalent untuk membantu talent, seperti kamu, mencari karier yang tepat dengan perusahaan yang cocok dengan kepribadian, gaya kerja, dan nilai-nilai hidupmu, dimana kamu tidak hanya dapat merasa puas dan lebih produktif, namun juga bahagia.