Blog

Karyawan ‘Kutu Loncat’: Apakah Minus di Mata HR?

Karier - 15 Nov 2022 by Andhika Pramudya

Summary. Saat ini semakin banyak para pencari kerja yang dicap sebagai karyawan ‘kutu loncat’ oleh para HR. Hal ini dikarenakan riwayat pekerjaannya yang sering berpindah-pindah di rentan waktu yang cukup singkat. Padahal, menjadi kutu loncat juga memiliki sisi positif seperti memiliki jaringan relasi yang luas, mempunyai pengalaman yang luas, banyak menguasai banyak bidang kerja, dan dapat menjadi aset yang cukup penting bagi perusahaan. Oleh karena itu, paparkan kelebihan-kelebihan ini ketika ditanyakan pada saat sesi interview dengan HR.

Expectations. Setelah membaca ini, diharapkan kalian dapat mengetahui bagaimana penilaian HR mengenai karyawan ‘kutu loncat’ dan tips untuk menghadapinya ketika ditanya pada saat interview.

 

Karyawan ‘kutu loncat’ merupakan suatu panggilan kepada mereka yang sering berpindah-pindah kerjaan baik dalam aspek tempat kerjanya maupun profesinya. Kutu loncat ini juga biasa dikenal dengan sebutan job hopping.

Dengan dinamika dunia saat ini cenderung berubah sangat cepat, maka bukan hal yang jarang dilakukan jika orang-orang juga cenderung merubah fokus pekerjaannya. Adapun terdapat berbagai alasan yang melatarbelakangi hal ini, seperti mengikuti tren pekerjaan yang semakin modern, profesi yang dibutuhkan perusahaan, atau sekedar bosan dan mencari tantangan baru.

Namun, apakah kecenderungan ini dan inkonsistensi dalam membangun karier pekerjaan berpengaruh di mata HR nantinya ketika melamar pekerjaan di suatu perusahaan?

Kutu loncat di mata HR

Biasanya, dari mata perusahaan melihat bahwa karyawan yang sering berpindah-pindah tempat dicap memiliki loyalitas yang patut dipertanyakan. Selain itu, karyawan tersebut dirasa belum siap untuk memasuki dunia kerja karena ketika bertemu dengan suatu tantangan atau tekanan langsung meminta mengundurkan diri atau resign. 
Alasan kenapa karyawan ‘kutu loncat’ dicap buruk adalah, karena sifat seperti ini dapat merugikan perusahaan. Mencari dan mendapatkan SDM perusahaan pada dasarnya memerlukan tenaga, waktu, dan biaya yang harus dikeluarkan. Namun, hal ini menjadi sia-sia karena dalam waktu yang singkat, karyawan tersebut mengundurkan diri atau resign dari pekerjaannya.

Terdapat berbagai macam pro kontra yang muncul dari karyawan yang sering berpindah-pindah atau kutu loncat. Beberapa praktisi HR mengatakan bahwa karyawan ‘kutu loncat’ akan mendapatkan kesan yang cukup buruk.

Biasanya, dari mata perusahaan melihat bahwa karyawan yang sering berpindah-pindah tempat dicap memiliki loyalitas yang patut dipertanyakan. Selain itu, karyawan tersebut dirasa belum siap untuk memasuki dunia kerja karena ketika bertemu dengan suatu tantangan atau tekanan langsung meminta mengundurkan diri atau resign

Alasan kenapa karyawan ‘kutu loncat’ dicap buruk adalah, karena sifat seperti ini dapat merugikan perusahaan. Mencari dan mendapatkan SDM perusahaan pada dasarnya memerlukan tenaga, waktu, dan biaya yang harus dikeluarkan. Namun, hal ini menjadi sia-sia karena dalam waktu yang singkat, karyawan tersebut mengundurkan diri atau resign dari pekerjaannya.

Tren kutu loncat pada generasi muda

Hal ini terjadi dikarenakan generasi muda masih memiliki semangat dan rasa haus yang tinggi terhadap tantangan dan pengalaman kerja. Terlebih di era transformasi saat ini yang bertebaran pekerjaan-pekerjaan yang beragam dan tidak dipelajari pada saat mengemban pendidikan perkuliahan.

Sejatinya, kemunculan karyawan ‘kutu loncat’ atau job hopper semakin banyak di era modern ini. Tren ini diperkenalkan dan sering muncul pada karyawan-karyawan yang termasuk ke dalam kaum muda seperti generasi milenial (kelahiran tahun 1981-1996) dan Gen-Z (kelahiran tahun 1997-2000-an). 

Kenapa banyak terjadi pada generasi muda? Hal tersebut dikarenakan generasi muda masih memiliki semangat dan rasa haus yang tinggi terhadap tantangan dan pengalaman kerja. Terlebih di era transformasi saat ini yang bertebaran pekerjaan-pekerjaan yang beragam dan tidak dipelajari pada saat mengemban pendidikan perkuliahan.

Dengan sifat yang sudah mendarah daging pada pekerja muda Indonesia ini, maka mau tidak mau, para rekruter dan HR perusahaan harus beradaptasi dengan fenomena ini dan melihat sisi positif dari keberadaan tren karyawan ‘kutu loncat’ dan tidak dipersepsikan memiliki citra yang buruk. Lalu, apa saja sisi positif dari ini?

  • Memiliki jaringan relasi yang luas, bekerja di banyak perusahaan tentunya membuat ia mengenal banyak orang. Hal ini tentunya dapat menjadi peluang yang baik pada perusahaan barunya.

  • Mempunyai pengalaman dan jam terbang tinggi, karyawan yang mempunyai pengalaman kerja dari berbagai latar belakang perusahaan tentunya dapat menghadapi berbagai tantangan dan memiliki sudut pandang yang luas dalam menemukan solusi yang tepat dan efektif.

  • Memiliki banyak bidang pekerjaan yang dapat dikuasai, di satu tempat ia bekerja sebagai copywriter, di tempat lain ia bekerja sebagai content strategist. Tentunya hal ini dapat mengembangkan soft skills maupun hard skills-nya dan menjadi paket lengkap untuk profesi yang lebih kompleks selanjutnya.

  • Dapat menjadi aset perusahaan yang tinggi, karyawan dengan kualifikasi yang tinggi dapat menjadi aset dan memberikan banyak keuntungan pada perusahaan. HR-pun juga mendapat reputasi yang baik karena dapat menemukan kandidat yang tepat.

Tips si ‘kutu loncat’ ketika ditanya HR

Ada tiga cara yang dapat dilakukan pada saat interview kerja dan ditanyakan hal yang spesifik oleh HR mengenai hal ini, yaitu dengan menghubungkan alasan dengan target karier yang ingin dicapai dan jelaskan rencana jangka panjangmu ketika berada di perusahaan.

Nah, agar kamu yang merupakan karyawan ‘kutu loncat’ dapat mempunyai peluang sukses yang lebih tinggi diterima dalam pekerjaan impianmu. Terdapat beberapa tips yang bisa kamu lakukan sehingga reputasi buruk dari ‘kutu loncat’ tersebut dapat tertutupi ketika ditanya recruiter terkait riwayat kerja yang berpindah-pindah, yaitu:

Hubungkan dengan target karier yang ingin dicapai

Jika kamu ditanya oleh HR, “mengapa dalam waktu 1,5 tahun kamu dapat bekerja pada 3 perusahaan yang berbeda?”. Kamu bisa memaparkan jawaban kamu dengan menghubungkannya dengan karier yang ingin dicapai sehingga selama berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya, kamu mendapatkan posisi yang lebih tinggi dan dengan tanggung jawab yang lebih besar.

Dalam prosesnya juga kamu mengalami perkembangan kemampuan yang cukup pesat karena dapat mengatasi berbagai kesulitan dan tantangan dalam setiap posisi yang kamu tempati tersebut. Dengan ini, HR-pun dapat menyimpulkan bahwa kamu berpindah-pindah kerjaan demi kemajuan karier bukan karena bosan atau tidak dapat menyanggupi tantangan yang ada.

Jelaskan rencana kamu di perusahaan

Setelah kamu sukses menjelaskan alasan sering berpindah-pindah dan tidak konsisten dalam pekerjaan. Kamu juga dapat melanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu rencana kamu kedepannya di perusahaan tersebut.

Berikan pemahaman bahwa saat ini kamu akan memiliki komitmen yang tinggi untuk bertahan pada calon perusahaan tempat kamu melamar saat ini. Misalnya, karena kamu sudah memiliki kapabilitas yang qualified untuk mengemban tanggung jawab pada posisi yang kamu lamar, visi dan misi perusahaan yang cocok dengan dirimu, dan/atau kondisi diri yang sudah siap untuk bekerja dengan komitmen yang tinggi pada suatu perusahaan.

Intinya, berikan jawaban yang menarik dan realistis sehingga HR lebih mempertimbangkan kamu untuk diterima dibandingkan kandidat-kandidat lainnya. 

Itulah beberapa tips yang bisa kamu terapkan ketika ditanyakan mengenai alasan-mu sering berpindah-pindah pekerjaan pada sesi interview dengan HR. Untuk mengetahui lebih banyak mengenai tips yang bisa kamu lakukan pada saat interview kerja dengan HR, kamu dapat membaca artikel lengkap mengenai transisi dari pencari kerja ke pekerja baru berikut ini.

 

Welcome to the fresh graduate life! Bangga, bahagia, terharu, semua emosi bercampur aduk menjadi satu. Tapi tunggu, ini bukan berarti perjuanganmu sudah berakhir! Momen ini nyatanya merupakan gerbang untuk menuju kehidupan selanjutnya, yaitu menjadi pencari kerja dan menjadi pekerja baru! Agar dapat berjalan dengan sukses, ikuti tips & trick pada panduan lengkap fresh graduate ini ya!


Kamu juga dapat melakukan asesmen diri melalui psikotes online singkat dengan Dreamtalent agar dapat mengetahui kecocokan visi, misi, dan budaya kerjamu dengan perusahaan yang ingin kamu lamar. Sehingga dapat meningkatkan peluangmu dapat diterima pada perusahaan impianmu!

Related Blog