Blog

10 Pekerjaan yang Tidak Akan Diambil Robot

- 08 Oct 2019 by System

Robot mungkin memang lebih baik dari kita dalam beberapa (banyak) hal, seperti pekerjaan kasar, tugas repetitif, manufaktur pabrik, mendeteksi kesalahan, mengumpulkan data, dan lainnya. Namun ada satu hal yang tidak bisa dipunyai robot — kemanusiaan. AI, machine learning, dan Industry 4.0 tidak dapat melakukan hal yang hanya bisa dilakukan oleh manusia.

Dan berita baiknya adalah banyak sekali pekerjaan yang membutuhkan sentuhan manusia tersebut. Kreativitas, empati, dan pertimbangan hanyalah beberapa dari kualitas manusia yang tidak akan dapat diganti oleh AI — setidaknya untuk saat ini.

Masa depan sudah hampir di sini, dan pekerjaan tidak akan sama lagi. Beberapa akan berubah, beberapa akan punah. Tapi pekerjaan berikut ini tidak akan direbut oleh robot selagi kita manusia masih ada.

1. Lawyer

Di part 1, kita membahas bagaimana AI dapat merubah pekerjaan dalam hukum dengan menggantikan paralegal. Kita juga membahas bahwa AI tidak dapat menggantikan lawyer karena pekerjaan mereka lebih dari menghafal hukum dan mempelajari kasus (itu adalah pekerjaan paralegal). Lawyer membutuhkan tidak hanya prediksi, namun juga kemampuan membuat keputusan dan pertimbangan untuk melakukan tugas mereka.

Lawyer harus bisa berempati dan meyakinkan hakim dan juri. Di luar sidang, mereka juga harus mampu bernegosiasi untuk kontrak. Kebutuhan akan argumentasi rumit dan pertimbangan berarti AI tidak akan menggantikan lawyer, tapi tentunya akan membantu mereka.

2. Dokter

AI mampu menyusun data tentang pasien dan mendeteksi gejala lebih baik dan cepat dibanding manusia, dan bahkan dapat membuat diagnosis nantinya, namun keputusan tetap berada di tangan dokter.

Kedokteran adalah lebih dari hanya mengenali symptom dan memberi resep obat. Penyembuhan berlangsung secara mental di samping fisik. Apa yang terjadi di dalam pikiran akan berdampak pada tubuh, dan dokter menggunakan fakta ini untuk membantu proses penyembuhan dan memberi pengalaman yang lebih baik untuk pasien.

James McAvoy as Kevin Wendell Crumb, or the Beast, or the Horde in the movies Split (2016) and Glass (2019).

Tentunya tidak akan sedramatis ini.

Dokter dapat membangun hubungan dan kepercayaan dengan pasiennya, dan merasa dipedulikan dapat menyembuhkan seperti obat. Dokter robot yang hanya mencetak diagnosis dan obat hanya akan meninggalkan pasien merasa terlantar.

Ngomong-ngomong soal mental…

3. Konselor kesehatan mental

Konselor kesehatan mental, psikiater, terapis. Kelompok profesi ini berkutat dengan salah satu misteri terbesar di alam semesta — pikiran manusia. Puluhan tahun penelitian dan kita masih terus menemukan hal baru tentang pikiran kita.

Konselor kesehatan mental menggunakan empati dan emosi untuk membantu pasien mereka. Sebuah AI dapat membantu dalam diagnosis dan menyediakan data lainnya untuk mempermudah pekerjaan konselor, namun tidak dapat menawarkan empati atau berbagi pengalaman. Hanya manusia yang dapat berkata pada manusia lain bahwa mereka mengerti apa yang sedang dialami.

4. Guru

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, karena mereka mengajar lebih dari sekadar kurikulum. Terutama dengan anak-anak, guru bertanggung jawab untuk perkembangan kemampuan bersosialisasi, stabilitas emosional, dan kemampuan hidup lainnya yang hanya dapat dimengerti dan diajari oleh manusia.

Robot mungkin mempunyai data, namun bukan cara untuk mengajari kemampuan manusia ini pada anak-anak. Guru lah yang mempunyai empati untuk mengajar tentang kerjasama, dan guru lah yang peka dan menghibur luka untuk membantu anak-anak tumbuh menjadi dewasa yang stabil secara emosi.

5. Manajer Human Capital

Human Resources Capital adalah bidang yang paling banyak berhubungan dengan manusia — sudah terlihat dari namanya. AI mempunyai peran penting dalam membawa manfaat untuk meningkatkan kualitas Human Capital, seperti analytics untuk membantu spesialis HC membuat keputusan lebih baik untuk orang-orang dalam perusahaan.

Perhatikan bahwa AI akan membantu dan meningkatkan, bukan mengganti Human Capital. Bidang ini mencakup lebih sekadar menandatangani formulir dan memproses gaji. Human Capital membutuhkan kemampuan manusia untuk resolusi konflik, memahami karakter, dan tentunya melakukan interview. Interview berguna untuk mengetahui kecocokkan bekerja dengan seorang kandidat, dan itu membutuhkan kemampuan manusia untuk membuat pertimbangan.

6. Makeup artist

Apa sulitnya sih menggunakan makeup? Terdengar mudah untuk memprogram robot untuk mengenali wajah manusia dan mengaplikasikan makeup dengan otomatis, kan? Ternyata, makeup tidak semudah itu. Inilah yang terjadi jika kamu membiarkan robot melakukan makeup untukmu.


“Five minutes later, I resemble Pennywise from Stephen King’s IT.”

Makeup artist membutuhkan gabungan dari ketangkasan (seperti barber) dan kecerdasan kreatif (seperti pelukis). Lebih lagi, makeup adalah hal yang sangat personal bagi kebanyakan orang, dan bergantung pada makeup artist yang mengenal dan sudah terbiasa dengan wajahmu.

AI bisa saja mengembangkan gerakan robotik dan pengenalan wajah, namun tidak bisa mengisi elemen hubungan dalam pekerjaan makeup artist, dan tidak akan ada yang mau mempercayakan aktivitas personal ini kepada robot yang tidak berperasaan.

7. Developer software

Menjadi seorang developer software bukan hanya tentang tahu cara membangun, tapi apa yang ingin dibangun. AI dapat belajar menulis code suatu hari — mereka sudah bisa sedikit — lebih baik dan efisien dibanding manusia, namun tetap akan membutuhkan pemikiran kritis dan pertimbangan manusia untuk memahami sisi bisnis dan fungsional untuk menentukan apa yang harus dikembangkan dahulu.

Aspek yang penting dalam pengembangan software adalah desain, terutama UI/UX. Software didesain untuk memenuhi kebutuhan manusia agar dapat digunakan semudah mungkin, dan hanya manusia yang tahu apa yang dirasakan manusia.

Di sisi lain, AI tidak bisa menciptakan dirinya sendiri. Jika kita sampai pada titik itu, AI mungkin tidak akan butuh manusia lagi.

The T-800 Terminator from the Terminator movie(s).

8. Chief executive

C-suite, atau posisi tertinggi dalam sebuah perusahaan, adalah salah satu pekerjaan yang paling bergantung pada kualitas manusia: kepemimpinan. Kepemimpinan sangat sulit diajarkan pada manusia, apalagi pada robot. Posisi ini membutuhkan empati, karisma, dan kemampuan sosialisasi untuk memimpin orang dengan sukses menuju suatu tujuan.

Seorang eksekutif juga harus mampu membangun strategi bisnis yang mantap dan menjadi wakil perusahaan di mata publik. Di samping karena AI kurang kemampuan berstrategi, tidak akan ada yang ingin mengikuti perintah dari seorang robot.

9. Seniman dan musisi

Apa yang lebih mampu menggambarkan kemanusiaan daripada seni? Musik dan lukisan dibuat dari perasaan dan pengalaman, cinta, harapan, kesedihan. AI bisa saja meniru perasaan tersebut, tapi pada akhirnya hanya merupakan program dan bukan emosi nyata milik manusia.

AI sekarang dapat membuat musik dan bahkan membantu produksi lagi, tapi tidak bisa menulis lirik yang terinspirasi dari fenomena kehidupan yang dapat dihubungkan oleh pendengar. AI dapat menghasilkan desain grafis yang lumayan dengan lebih murah dan cepat dibanding desainer, tapi senimanlah yang memisahkan CGI dari seni.

Interpretasi manusia adalah cenderung yang membuat seni begitu unik, jadi inilah dimana kesempurnaan AI menjadi tidak diinginkan dan tidak bisa disamakan dengan talenta seorang manusia.

10. Penulis

Karena teknologi pengenalan suara dan terjemahan masih belum sempurna, AI masih jauh dari menguasai peraturan rumit dalam tata bahasa. Apalagi idiom, humor, dan alat linguistik lainnya dimana manusia menghabiskan seluruh masa kecilnya untuk mempelajari.

Penulis mengambil inspirasi dari perasaan dan pengalaman untuk menciptakan karya sastra. Kepribadian setiap penulis memberi karya tersebut suara dan gaya yang unik dan berbeda. AI belajar dari data yang sudah ada, sementara kreativitas adalah membuat ide dari hal yang di luar apa yang biasa.

Blog ini akan tetap ditulis oleh seorang manusia, setidaknya untuk sekarang.

Brave new world

Ekosistem pekerjaan yang diubah dan didorong oleh AI adalah nyata, namun ancaman dari AI tidak seburuk yang kita bayangkan. Lagipula, bangkitnya AI akan menciptakan lebih banyak pekerjaan daripada yang dihapus. Dampak terburuknya adalah kita harus berkomitmen pada pengembangan diri dan maju dari dunia lama untuk menguasai kemampuan yang dibutuhkan dalam Industry 4.0.