Blog

Apa Itu Culture Fit?

- 10 Dec 2019 by Yehezkiel Faoma Taslim

Apa yang kamu cari saat mempertimbangkan karier untuk dijalani? Kalau jawabanmu adalah pekerjaan itu sendiri dan gaji, tidak salah, tapi kamu mungkin melupakan satu faktor yang sama pentingnya: culture fit.

Kalau kamu sudah pernah membaca Blog Dreamtalent atau laporan psychometric-mu, kamu mungkin sadar bahwa kami sangat memberi emfasis pada culture fit. Lagipula, kita tidak ingin kamu menguras tenaga mengirim resume dan mendatangi interview hanya untuk mengetahui ternyata kamu tidak suka pekerjaan atau perusahaannya.

Jadi, apa sih culture fit, dan mengapa kamu harus mementingkannya saat mencari pekerjaan?

Apa itu culture fit?

Jika kepribadian adalah sekelompok karakteristik yang mendefinisikan perilaku manusia, maka budaya perusahaan (company culture) adalah “kepribadian” yang dimiliki perusahaan. Company culture adalah nilai-nilai dan prinsip yang dipegang oleh seluruh orang dalam organisasi, yang mempengaruhi bagaimana mereka berperilaku dan berinteraksi dengan pekerjaan dan orang lain — sederhananya, cara perusahaan bekerja.

Maka, culture fit adalah kesesuaian antara kamu dengan cara perusahaan bekerja, salah satunya adalah kecocokkan dengan kepribadian kamu.

Contohnya, cara orang-orang di startup kecil didorong untuk memberi ide berbeda dengan bagaimana bank besar ingin karyawannya ikut arahan dengan tepat. Bayangkan jika seorang banker harus bekerja di sebuah startup dan sebaliknya.

Namun culture fit bukan berarti bahwa semua karyawan dalam perusahaan mempunyai kepribadian yang sama. Hal sama yang dimiliki adalah nilai-nilai dan prinsip. Sisi lain dari culture fit adalah bagaimana nilai-nilai pribadi kamu sejalan dengan misi dan visi perusahaan.

Sebagai contoh: Walaupun kepribadianmu yang cenderung stabil dan rapi cocok dalam bank, nilai yang kamu hargai adalah kesempatan untuk belajar dan berkembang. Jika bank hanya fokus pada hasil kerja dan tidak pada pengembangan karyawan, kamu tetap akan merasa kurang cocok.

Mengapa culture fit penting untukmu?

Memiliki culture fit yang baik akan membawa banyak manfaat untukmu dalam karier dan bahkan dalam kehidupanmu di luar kerja. Di sisi lain, culture fit yang buruk akan membuatmu tidak puas dan merasa kosong dalam pekerjaan. Karena kerja menghabiskan hampir 30% dari hidup kita, culture fit seharusnya menjadi salah satu prioritas dalam mencari karier.

1. Merasa cocok dan serasi

Pernahkah kamu bertemu sekelompok orang yang benar-benar mengerti dan menerima kamu? Kira-kira begitulah rasanya berada di antara orang-orang yang cocok atau serasi (belonging).


Rasa kecocokkan adalah lebih dari sekadar “fit in”. Kebanyakan orang dapat membiasakan diri terpisah dari budaya kerja dengan cukup waktu, namun merasa cocok dan serasi adalah benar-benar merasa sebagai bagian dari tim, komunitas, atau organisasi.

Rasa ini datang dengan adanya culture fit, karena kamu tidak hanya butuh menjadi sejalan dengan kepribadian orang lain, namun juga menyesuaikan diri dengan bagaimana perusahaan bekerja.

Jika kamu tipe orang yang lebih menyukai kolaborasi dan kompromi, kamu tidak akan merasa disambut di dalam budaya perusahaan yang penuh persaingan. Namun jika kamu sendiri mempunyai kepribadian yang kompetitif, kemungkinan besar kamu akan merasa cocok di sana.

2. Merasa nyaman di lingkungan kerja

Beberapa karier mempunyai sinkronisasi alami dengan beberapa kepribadian tertentu — sales dengan orang yang extroverted, atau industri kreatif dengan orang yang… kreatif. Ini disebut sebagai Person-Job Fit. Namun menjadi cocok dengan suatu pekerjaan membutuhkan lebih dari hanya kesesuaian dalam keterampilan dan kepribadian, yaitu lingkungan kerja.

Kepribadian mempengaruhi cara kamu berperilaku, termasuk dalam kerja. Di sisi lain, lingkungan kerja menentukan bagaimana kamu melakukan pekerjaanmu. Jika kepribadian tidak cocok dengan lingkungan kerja sekitar, maka kemungkinan besar kamu tidak akan merasa nyaman, walaupun kamu suka pekerjaan dan orang-orang sekelilingmu.

Contoh yang sering diangkat adalah konsep open office. Lantai kantor yang terbuka disambut sebagai memberi kebebasan dari cubicle yang terkesan mengurung, sehingga orang-orang bebas melihat dan berbicara dengan satu sama lain. Namun konsep ini tidak bekerja baik bagi orang-orang yang introverted yang lebih memilih privasi di dalam cubicle.

Beberapa orang yang menyatukan kerja dengan kehidupan tidak keberatan lembur atau bahkan melanjutkan pekerjaan di akhir minggu, namun orang yang mempunyai nilai tinggi di spektrum Lifestyle ingin menetapkan garis di antara hidup dan kerja, jadi budaya kantor yang sering lembur tidak akan cocok untuk mereka.

3. Mengikuti tujuan hidup

Dua point pertama mengacu pada kepribadian — sekarang, mari bahas soal values. Sebagai seorang individual, kamu mempunyai nilai-nilai pribadi (values) yang kamu anggap penting. Pengembangan diri, penghargaan, stabilitas, atau apapun hasil yang kamu dapatkan di values assessment di Dreamtalent.

Seperti yang sudah dibahas, kerja adalah bagian yang signifikan dari kehidupanmu. Jadi mengapa tidak memanfaatkan waktu itu dan menjalani karier yang sejalan dengan nilai-nilai pribadimu?

Values adalah faktor paling utama yang menentukan pilihan karier seseorang. Ini dikarenakan ketika kamu melakukan pekerjaan yang sejalan dengan nilai-nilaimu, kamu merasa puas dan termotivasi karena kamu melakukan sesuatu yang berarti.

Jika kamu bersemangat soal kontribusi sosial, kamu tentunya akan senang jika perusahaan mengadakan acara CSR secara reguler, atau jika kamu bekerja di organisasi seperti PBB. Jika kamu mendedikasikan hidup untuk menciptakan hal-hal baru, kamu akan suka budaya kerja yang mendorongmu untuk berkreasi dan bereksperimen.

4. Menjadi bahagia

Manajer dan spesialis SDM menyebutnya kepuasan kerja atau engagement, namun nama aslinya adalah kebahagiaan. Tentunya, saat kamu bekerja dalam budaya yang sesuai dengan kepribadian, kebutuhan, dan nilai, dan ketika kamu merasakan manfaat yang ada sudah dibahas di atas, pekerjaan akan mulai membawa kebahagiaan ke dalam kehidupanmu.

Di sisi lainnya, jika kamu merasa lelah harus bangun setiap pagi dan bertemu dengan orang-orang yang tidak kamu suka untuk mengerjakan sesuatu yang tidak berarti, kamu bisa saja mengidap gejala culture misfit.

Menjadi bahagia dalam karier tidak hanya akan membuatmu merasa lebih baik, namun juga membantu kamu bekerja dengan lebih baik. Lagipula, memberi performa yang lebih dapat membawa imbalan dan penghargaan dalam berbagai bentuk, yang akan menjadi alasan tambahan untuk berbahagia dalam karier.

Mencari culture fit kamu

Mungkin tidak mudah untuk menemukan jenis budaya kerja yang benar-benar cocok untukmu. Di samping melakukan penelitian sendiri dan memberi pertanyaan saat interview, cara yang termudah adalah melalui tes psychometric di Dreamtalent untuk mencari tahu bukan hanya budaya yang tepat untukmu, namun juga perusahaan apa saja yang menawarkan budaya dan karier yang cocok tersebut.