Hustle Culture: Produktif Atau Toxic?
Tempat Kerja | 18 Mar 2022 | By System
Hustle Culture: Produktif Atau Toxic?

Summary. Meskipun banyak orang yang menganggap bahwa hustle culture merupakan hal yang harus dicapai dan telah menjadi standar kehidupan orang banyak, bukan berarti hal ini bisa diterapkan oleh semua orang. Memahami efek dan cara mengatasi hustle culture dapat membantu kamu untuk mengetahui apakah gaya hidup ini dapat membuatmu jadi lebih produktif atau hanya menambah stres?

 

Expectation. Setelah membaca artikel ini, kamu akan mengetahui tentang hustle culture dan apa yang bisa kamu lakukan mengenainya.

 

Dari tren yang bermunculan di TikTok, hingga kejadian di kehidupan nyata, pasti kamu pernah mendengar yang namanya hustle culture, kan? Istilah ini sering sekali digunakan oleh banyak orang, dan terkadang hal ini menjadi gaya yang ingin diikuti oleh orang-orang agar dapat dibilang sebagai breadwinner. Sebelum dibahas, apa, sih, hustle culture itu?

 

Dari namanya saja, kata hustle berasal dari bahasa Inggris memiliki beberapa definisi. Tetapi, definisi yang tepat untuk konteks yang akan dibahas adalah: to make strenuous efforts to obtain; especially money or business atau yang berarti “untuk membuat usaha yang kuat untuk mendapatkan sesuatu yang berhubungan dengan uang dan bisnis.”

 

Lalu, Apa Itu Hustle Culture?

Judy Hopps memegang pulpen wortel saat berbicara dengan Nick Wilde.

 

Joe Ryle, Direktur 4 Day Week Campaign, mendefinisikan hustle culture sebagai kegiatan untuk bekerja yang memerlukan waktu hingga mencapai tahapan yang tidak wajar sehingga tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk menikmati hidup. 

 

Dengan kata lain, hustle culture dapat didefinisikan sebagai gaya hidup yang menganggap karir adalah sebuah prioritas yang mengakibatkan seseorang untuk mengenyampingkan aspek lain dalam hidup, seperti, hobi, waktu untuk kumpul dengan keluarga dan teman, me-time, atau bahkan untuk beristirahat.

 

“Hustle culture membuat kamu berpikir semakin sibuknya kamu, maka semakin berharganya dirimu.”

Kate Northup

 

Hustle culture juga membuat hampir dari kita semua berpikir bahwa the busier you are, the better you are. Padahal tidak selalu seperti itu. Mungkin terkadang kamu merasa bersalah jika kamu menghabiskan waktumu untuk sesuatu yang tidak berhubungan dengan pekerjaan / karir. Akan tetapi, jika kamu melakukannya secara berkepanjangan, kamu akan lupa kapan kamu bisa beristirahat. Jangan sampai, kamu berada di titik hidup yang membuatmu merasa bersalah saat kamu ingin beristirahat. Your body is not a machine. If you can’t take care of it, then who will?

 

Efek Samping dari Hustle Culture

Charles Boyle sedang duduk dan memegang gelas di bar.

Memang terkadang betul, semakin banyak dan sering kamu bekerja, semakin banyak hal juga yang bisa kamu raih dan dapatkan. Seperti uang, prestige, rasa bahagia dan rasa percaya diri. Tetapi, dengan adanya hustle culture dapat membuat dunia personal dan profesional menjadi tidak seimbang. Selain itu, hal ini juga bisa menghadirkan efek negatif lain untuk kamu, seperti:

 

  • Berpikir untuk selalu mengiyakan dalam mengerjakan tugas, memiliki andil dan peran dalam kepanitiaan, menghadiri semua rapat (bahkan yang tidak terlalu penting dan berhubungan dengan posisi kamu di kantor) hanya untuk menghindari rasa dihakimi orang lain,

  • Merasa bersalah untuk mengambil cuti, izin sakit, atau bahkan istirahat saat tubuh kamu memerlukannya,

  • Menjawab semua panggilan telepon, email, atau bahkan chat setelah jam kerja dan weekend,

  • Memaksakan diri sendiri untuk tetap bekerja hanya demi produktivitas,

  • Menjadi awal dari burnout,

  • Menumbuhkan bibit persaingan tidak sehat antar karyawan.

 

(Baca juga: Produktif atau Toxic Productivity?)

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Setelah mengetahui dampak dari hustle culture, ada beberapa cara untuk mengatasi hal ini, yaitu:

  • Mulai dengan bertanya pada diri sendiri. Dengan melakukan hal ini, kamu bisa memulai proses untuk mengubah diri sendiri. Dengarkan kebutuhan diri kamu sendiri jika kamu mulai merasa  jika tubuhmu lelah dan energimu sudah habis.

  • Membuat definisi dari hari yang ideal menurut kamu sendiri. Seperti apa kamu ingin mengatur waktumu? Apakah waktu yang kamu miliki sudah habis tidak tersisa untuk bekerja saja?

  • Berikan pikiranmu waktu untuk beristirahat. Setelah kamu selesai mengerjakan tugas dalam jangka waktu yang cukup lama, istirahatkan pikiranmu dengan memberikan jeda sejenak sebelum kamu melanjutkan pekerjaan selanjutnya.

  • Sayangi diri sendiri.  Hustle culture berpendapat bahwa kamu hanya bisa menikmati hasil kerja keras kamu suatu hari nanti, tanpa mendefinisikan kapan waktu kamu bisa melakukannya. Setelah menyelesaikan pekerjaan, kamu bisa merayakan selesainya pekerjaan yang telah kamu kerjakan saat itu juga.

  • Memahami bahwa istirahat bukanlah sebuah reward. Istirahat bukan sesuatu yang kamu harus perjuangkan agar bisa mendapatkannya. Jika kamu telah merasa bahwa kamu telah letih baik secara fisik, mental, dan emosional kamu tetap memiliki hak untuk beristirahat.

 

Tidak Semuanya Harus Kamu Ikuti

Sebelum kamu memutuskan untuk mengikuti gaya hidup ini, alangkah baiknya jika kamu bertanya pada diri sendiri jika hal ini merupakan hal yang benar-benar kamu butuhkan. Kamu bisa bertanya pada diri sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan, seperti:

  • Pendapat dan penilaian pribadi kamu tentang kesuksesan dan tolak ukur kesuksesan itu sendiri,

  • Apa hal yang membuatmu takut jika kamu berhenti mengikuti gaya hidup seperti ini?


Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, refleksikan jawaban yang telah kamu dapatkan dengan kepribadian kamu. Kamu bisa mengetahui kepribadian kamu secara lebih mendalam dengan mengikuti psikotes kepribadian di Dreamtalent; yang nantinya akan membantu kamu dalam hal memahami diri sendiri, dan juga bagaimana cara kamu mencocokkan kepribadian dan gaya bekerja yang sesuai dengan kamu.