Blog

Cara Membangun Psychological Safety Dalam Tim

- 05 Aug 2021 by Yehezkiel Faoma Taslim

Dalam penelitiannya, profesor Amy Edmondson menemukan bahwa tim dalam rumah sakit dengan kinerja tinggi membuat lebih banyak kesalahan dibanding yang lain.

Tunggu dulu. Benarkah?

Ternyata, tim RS yang lebih baik bukan lebih banyak membuat kesalahan, namun lebih jujur dalam melaporkan kesalahan daripada tim yang berperforma lebih rendah.

Kemauan untuk mengakui kesalahan dibuat mungkin oleh psychological safety. Ini adalah kunci untuk tim yang kuat dan tidak takut untuk menjadi terbuka dan jujur, dan yang memberi performa terbaik untuk organisasi Anda.

Apa itu psychological safety?

Ketika kita menghadapi bahaya (seperti dipermalukan di depan publik), otak kita mengaktivasi insting bertahan hidup yang menghentikan fungsi nalar lainnya. Apa saja “bahaya” yang bisa ditemukan di tempat kerja?

  • Jika bertanya, nanti dikira tidak berpengalaman
  • Jika mengakui kesalahan, nanti dikira tidak kompeten
  • Jika minta tolong, nanti dikira tidak bisa diandalkan
  • Jika memberi kritik, nanti dikira pembawa masalah

Perasaan ini sangat tidak nyaman, maka otak kita berpikir lebih baik dihindari saja. Namun untuk sukses sebagai tim, kritik dan gagal mencoba adalah hal yang diharuskan. Bagaimana caranya pemimpin dapat mebangun tim yang berani mengakui kesalahan dan menerima kritik dengan terbuka?

Psychological safety adalah ketika kita merasa aman untuk menjadi “rentan” atau mengambil risiko interpersonal: mengakui kesalahan, memberi feedback kepada atasan, berbeda pendapat, mengusulkan ide, dan untuk menjadi terbuka dan jujur di hadapan anggota tim lain.

Ini semua adalah perilaku yang dibutuhkan bagi tim Anda untuk menciptakan ide yang besar, berinovasi, dan memberi kinerja yang jauh lebih tinggi.

Manfaat dari psychological safety

Dalam studi internal berjudul Project Aristotle, Google menemukan bahwa alasan #1 atas kesuksesan tim mereka adalah psychological safety.


Dalam tim ini, apakah kita bisa mengambil risiko tanpa merasa insecure?



Dari re:Work by Google

Karena adanya psychological safety, tim dalam Google jauh lebih semangat untuk mengusulkan ide, mencoba hal baru, dan mengambil risiko tanpa takut dipermalukan oleh rekan tim. Para talent lebih engaged, termotivasi, bahagia, dan berkembang dalam budaya yang suportif.

Inilah mengapa mereka mampu menghasilkan ide yang baik, menciptakan inovasi, dan mendorong Google menjadi pemimpin dunia.

Dalam angka, Gallup menerjemahkan psychological safety menjadi:

  • 27% pengurangan employee turnover
  • 12% peningkatan produktivitas

Apakah psychological safety hanya sebuah zona nyaman?

Tidak sama sekali. Membangun psychological safety adalah mendorong tim keluar dari zona nyaman / comfort zone (menjadi bosan dan tidak termotivasi) namun jauh dari anxiety zone (menjadi stres atau tertekan).

Learning zone memberi keseimbangan antara kerja keras dan rasa aman. Di sini, tim Anda diberdayakan untuk mengambil risiko interpersonal — bertanya, menjadi jujur, belajar hal baru — yang menghasilkan pengembangan dan tentunya kinerja tinggi. inilah dimana psychological safety akan membawa Anda.



Dari TEDx talk oleh Profesor Amy


Cara membangun psychological safety untuk tim Anda

1. Membuat urgency

Ini adalah langkah pertama dalam Change Leadership. Agar tim mendukung perubahan ini, Anda perlu membangun rasa urgency dan mengkomunikasikan apa yang akan terjadi nantinya.

Komunikasikan bahwa Anda akan membawa mereka keluar dari comfort zone, dan bahwa Anda ingin mereka untuk memberanikan diri dan mulai memberi opini dan feedback yang jujur, dan bahwa ini akan menjadi tantangan untuk semua pada awalnya.

Jelaskan bahwa perubahan ini harus terjadi dan bahwa Anda butuh kontribusi dari semua anggota. Ketika tim sadar akan apa yang dibutuhkan, mereka akan lebih reseptif untuk mulai menjadi “rentan”, terbuka, dan membangun psychological safety.

2. Bertanya dan mendengar

Mengambil langkah pertama untuk membuka diri bukanlah hal yang mudah. Sebagai pemimpin, Anda dapat mendorong mereka untuk mulai mengambil risiko interpersonal.

Berbicaralah dengan anggota tim satu-persatu dan tanya pertanyaan untuk mendorong mereka keluar dari zona nyaman. Anggap seperti mengajak ngobrol orang yang sangat pemalu.

  • Apa opinimu tentang ini?
  • Apakah ada ide yang ingin dibagi?
  • Ada feedback apa tentang yang baru saya jelaskan?

Dan ketika mereka menjawab dengan jujur, dengarkan. Anggap kata-kata mereka dengan serius dan beri respon dengan empati. Terus terapkan ini dan tim Anda akan paham bahwa tidak apa-apa untuk menjadi jujur dan terbuka, bahwa dalam ini mereka dapat merasa aman untuk menjadi rentan.

3. Jangan menyalahkan, tapi fokus pada solusi

Membangun psychological safety berarti mengakui kesalahan. Inilah yang paling ditakuti kebanyakan orang.

Ketika anggota tim memberanikan diri untuk mengakui kesalahannya, dia mempercayai Anda dan tim dengan membiarkan diri terbuka seperti itu.

Penting bagi Anda sebagai pemimpin untuk menyadari ini. Jangan kembali menyalahkan mereka dan bilang “ini salahmu”. Mereka sudah sadar dan menyalahkan diri sendiri, dan itu hanya akan mendorong tim menuju anxiety zone.

Fokus pada solusi. “Ke mana kita bisa lanjut dari sini?” “Apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki ini?” “Apa yang bisa kita bantu?” Dengan ini, tim Anda akan belajar bahwa tidak apa-apa untuk mengakui kesalahan.

4. Menjadi rentan di depan tim

Memimpin perubahan menuju psychological safety harus dimulai dengan memberi contoh dari pemimpin.

Kebanyakan manager takut terlihat lembut atau lemah, namun ternyata pemimpin yang terbaik tidak takut untuk menjadi terbuka dan memperlihatkan vulnerability di depan tim.

Minta feedback dan terima kritik dengan terbuka. Jika Anda membuat kesalahan, akui dengan jujur. Mulailah menjadi terbuka dan tim Anda akan mengikuti.

Tunjukkan bahwa Anda juga seorang manusia yang memiliki ketidaksempurnaan, dan tim akan merasa lebih nyaman membuka diri dengan Anda. Lambat laun, tim pun akan merasa nyaman untuk menjadi jujur dan memberi feedback kepada sesama.

Memelihara budaya psychological safety

Dengan psychological safety, tim Anda akan lebih engaged, berani untuk menjadi kreatif dan mengambil risiko, dan memberi kinerja yang jauh lebih baik.

Memelihara budaya psychological safety tidak mudah karena satu orang toxic dapat dengan mudah menjatuhkan tim Anda ke dalam anxiety zone. Maka, penting untuk berhati-hati dan tidak menerima orang yang salah ke dalam perusahaan Anda.

Dengan asesmen psychometric yang terbukti secara ilmiah oleh Dreamtalent, Anda dapat mengetahui risiko toxic kandidat dari awal, sehingga dapat menghindari bad hire dan membangun budaya yang kuat akan psychological safety.