Blog

Panduan Lengkap Work Culture Untuk HR

Tempat Kerja - 27 May 2022 by Andi Annisa Mara Bintang & Aurellia Candraningtyas

Tidak ada lagi hal paling menyenangkan selain melihat suasana kantor yang dibanjiri fasilitas-fasilitas yang memanjakan karyawannya. Akan tetapi, apakah banyaknya fasilitas yang ditawarkan perusahaan sama dengan kebahagiaan karyawan?

 

Salah satu pertanyaan yang paling penting bukanlah berapa banyak fasilitas tambahan yang bisa diberikan perusahaan terhadap karyawan, akan tetapi, apakah perusahaan sudah menciptakan budaya kerja yang sehat dan aman bagi karyawannya.

 

Hal ini perlu disadari, bahwa terkadang, fasilitas yang diberikan perusahaan tidak selalu menjamin bahwa perusahaan tersebut memiliki lingkungan kerja yang ideal yang dapat merangkul semua pihak yang bekerja di dalamnya.

 

Apa Itu Work Culture?

 

Ketika seorang kandidat ingin melamar pekerjaan, ada banyak pertanyaan yang meliputi pikirannya saat itu. Seputar gaji, deskripsi pekerjaan, hingga berakhir pada lingkungan kerja yang juga menjadi indikator yang menentukan akankah mereka bertahan di lingkungan tersebut.

 

Lingkungan kerja yang juga dikenal dengan sebutan work culture merupakan sebagian dari sifat, tindakan, dan perilaku yang berperan penting dalam membentuk lingkungan kerja.

 

Indikator ini juga nanti yang akan mendefinisikan bagaimana work culture dapat termasuk ke dalam golongan yang sehat hingga toxic.

 

Ketika karyawan telah berhasil masuk ke dalam kepribadian lingkungan perkantoran secara seutuhnya, maka dapat dikatakan bahwa karyawan tersebut fit atau sesuai dengan lingkungan work culture mereka.

 

Work culture suatu perusahaan diukur dan ditentukan dari berbagai faktor:

 

  • Karakteristik Dominan: Karakteristik yang paling menggambarkan perusahaan.

  • Gaya Kepemimpinan: Metode kepemimpinan yang digunakan pemimpin perusahaan.

  • Manajemen Karyawan: Sistem manajemen untuk menyelaraskan karyawan dengan kepentingan perusahaan.

  • Pemersatu Organisasi: Nilai yang menentukan sikap dan tingkah laku karyawan dalam perusahaan.

  • Penekanan Strategi: Ide yang membentuk strategi untuk mencapai kesuksesan.

  • Kriteria Kesuksesan: Definisi kesuksesan bagi perusahaan.

 

Pentingnya Work Culture

 

Work culture memiliki peran yang penting dalam membentuk perusahaan, terutama dalam membentuk citra atau branding. Perusahaan yang baik terkenal memiliki work culture yang baik. Hal ini menjadi sesuatu yang pertama kali dibincangkan oleh orang-orang diluar perusahaan.

 

Sebagai contoh, perusahaan ternama seperti Google dikenal memiliki work culture yang sangat merangkul khalayak muda, membuat mereka dapat lebih menarik banyak karyawan-karyawan generasi baru untuk datang ke kantor mereka. Hal inilah yang membuat work culture memiliki korelasi yang tinggi untuk membentuk employer branding.

 

Peran work culture di dalam suatu perusahaan bisa dibilang sangat krusial. Culture yang dimiliki suatu perusahaan akan secara tidak langsung membentuk karakter dan kepribadian organisasi yang dimiliki. Hal ini membuat kondisi lingkungan kerja yang unik, memiliki nilai-nilai dan prinsip tersendiri, serta tradisi-tradisi yang bisa jadi beda dari yang lain.

 

Lebih dari itu, work culture yang baik akan membuat karyawan menjadi lebih produktif. Ketika budaya kerja yang positif membuat karyawan menjadi bahagia, perusahaan menjadi 20% lebih produktif dibanding pesaing. Karena itu, employee retention pun meningkat oleh adanya work culture yang baik.

 

Pada dasarnya, semua perusahaan memiliki reputasi yang membuat mereka mempunyai nama di kalangan calon kandidat, disebut sebagai employer branding, dapat ditingkatkan dengan work culture yang baik. Brand yang dimiliki oleh perusahaan sebagai employer menjadi reputasi yang harus mereka pegang, dan salah satu dari branding tersebut termasuk work culture.

 

Dalam artian yang lebih mudah, employer branding adalah apa yang ada dipikiran kandidat dan pekerja tentang perusahaan kita. Hal ini yang nantinya dapat menjadi topik pembicaraan perusahaan Anda dari mulut ke mulut. Perusahaan dengan work culture yang baik akan mendapatkan reputasinya bahkan dari cerita karyawan masing-masing.

 

Namun, seperti halnya sebuah brand, reputasi yang negatif pun akan membuat talent yang terbaik segan melamar ke perusahaan yang terkenal “gampang bikin stres” atau “isinya orang-orang toxic”. Karena itu, perusahaan harus cermat dalam membangun employer brand, termasuk bagaimana mereka membentuk work culture di lingkungan kerja.

 

Work Culture: Now and Then

 

Membandingkan work culture dari tahun ke tahun, kita dapat melihat dengan signifikan perubahan yang terjadi dan bagaimana hal tersebut berdampak terhadap perkembangan lingkungan kantor. Perubahan work culture ini selain didasari oleh peningkatan teknologi dan arus globalisasi juga didorong oleh generasi yang memenuhi kantor.

 

Contoh, kita tidak dapat mengharapkan work culture yang sama untuk kinerja kantor di tahun 2000-2010 dengan kantor 2010-2020. Setiap periode menghasilkan generasi tersendiri.

 

Generasi yang saat ini sedang marak memenuhi work culture adalah Gen Z. Gen Z adalah generasi yang lahir di tahun 1997 - 2012, dan seperti yang dapat kita duga, mayoritas dari mereka telah memasuki dunia kerja.

 

Ada banyak hal yang membuat perusahaan juga harus menyesuaikan kondisi perusahaan mereka untuk dapat menarik Gen Z — seperti yang sebelumnya telah kita bahas, berkaitan dengan employer branding — dengan perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang lebih muda, fresh, dan terbuka dengan ilmu-ilmu baru, maka kondisi untuk hiring Gen Z menjadi pertimbangan utama.

 

Untuk memecahkan hal tersebut, perusahaan perlu memahami karakteristik Gen Z yang dapat membantu mereka pula untuk mengerti tentang bagaimana mereka bisa mendorong work culture yang baru di tengah perubahan arus generasi. 

 

Karakteristik Gen Z dalam Dunia Kerja

 

Gen Z adalah generasi terbaru yang jejaknya tidak lama akan segera membuntuti millenial dalam dunia kerja. Hampir mirip dengan millennial, Gen Z memiliki karakteristik yang lebih cenderung terbuka pada dunia luar dan punya peran yang tinggi dalam dunia digital. 

 

Namun, tetap saja, Gen Z tidak bisa disamakan sifatnya dengan millennial. Salah satu karakteristik pertama yang dapat ditelaah dari Gen Z adalah bahwa mereka adalah sosok yang oportunis

 

Selain oportunis, Gen Z adalah sosok yang cukup kompetitif. Generasi ini lebih banyak suka bekerja individu dan mengejar kemenangan untuk diri mereka sendiri. Apakah berarti Gen Z bukan generasi yang baik untuk bekerja di dalam tim? Jangan salah sangka, sikap kompetitif ini juga dapat berubah menjadi sikap kolaboratif.

 

Bahkan, Gen Z cenderung lebih kolaboratif dibandingkan millennial akibat lingkungan mereka yang sangat menekankan prioritas problem-solving.

 

Di sisi lain, Gen Z juga cukup konfrontatif. Disaat yang sama, mereka juga generasi yang lebih terbuka dengan segala jenis masukan. Khususnya ketika generasi ini banyak berkembang di dunia yang cenderung terdigitalisasi, mereka justru menemukan kekurangan dari menyampaikan opini secara digital, dan lebih menyukai konfrontasi eye-to-eye. HR dapat memanfaatkan karakteristik ini sebagai pihak yang observant terhadap detail-detail kecil yang dapat merugikan perusahaan. 

 

Dalam beberapa kasus, Gen Z juga cenderung lebih individualis dibandingkan generasi sebelum-sebelumnya. Mereka yang terbiasa dibesarkan dengan lingkungan kerja yang digital dan jarang menghadapi teamwork satu sama lain, serta dorongan untuk senantiasa kompetitif bahkan dengan kolega sendiri.

 

Namun, sifat individualis ini tidak selalu dipandang sebagai downside. 

Pada perspektif lain, Gen Z punya potensi untuk menjadi sosok yang ambisius dan percaya diri, bahkan dapat menjadi dorongan yang baik untuk perusahaan yang menginginkan kinerja fast-pace. Selain itu, kinerja Gen Z akan jauh lebih efektif karena ambisi mereka mendorong untuk senantiasa mencapai hasil yang ditujukan sesuai dengan tanggung jawab dan visi misi yang diinginkan.

 

Dan yang terakhir, tentu saja berkaitan dengan teknologi. Khusus untuk perusahaan yang membutuhkan kandidat yang bekerja dengan metode sat-set-sat-set, Gen Z adalah sosok yang paling tepat. Generasi ini adalah generasi yang paling melek teknologi dan terbiasa mengerjakan pekerjaan sehari-hari mereka dengan bantuan teknologi digital.

 

Karenanya, teknologi bukan lagi hal yang perlu ditakutkan bagi generasi ini. Sekalipun perusahaan mengenalkan teknologi baru kepada Gen Z, mereka akan lebih cepat belajar dibandingkan generasi lama, dikarenakan sudah cukup familiar dengan dunia teknologi.

 

Bila alasan-alasan tersebut telah cukup untuk membuat Anda merasa bahwa karakteristik Gen Z dapat membantu dalam kinerja perusahaan, Anda juga bisa membentuk work culture Anda lebih baik lagi dengan keuntungan yang bisa dibawa oleh Gen Z. 

 

Keuntungan Merekrut Gen Z

 

Satu alasan utama tentunya tidak jauh-jauh dari teknologi. Dengan Gen Z menjadi generasi yang melek teknologi, memiliki Gen Z di kantor berarti Anda mengizinkan kantor Anda untuk lebih memiliki budaya tech savvy dalam lingkungannya. Khususnya apabila kantor Anda memiliki kinerja remote working atau WFH, kondisi ini akan sangat menguntungkan Anda.

 

Memiliki Gen Z di kantor berarti memiliki tenaga kerja yang berkompetensi terhadap perubahan teknologi.  Bisa jadi ilmu yang mereka miliki dapat menjadi kontribusi bagi kantor yang menginginkan struktur karyawan baru yang lebih melek teknologi dan siap untuk beradaptasi dengan tren terbaru.

 

Alasan kedua adalah dengan memanfaatkan sifat individualis mereka, maka Anda dapat mengekspektasikan model kerja yang siap untuk belajar sendiri. Mayoritas dari Gen Z dapat dikatakan ‘tidak merepotkan’, karena mereka bukan generasi yang suka ‘digantung’.

 

Perusahaan cukup memberikan bekal ilmu dan pelatihan, dijamin mereka akan dapat mengembangkan ilmu tersebut dengan hasrat mereka untuk mempelajari materi lebih mendalam yang didorong dari keinginan sendiri.

 

Tidak akan ada lagi talent yang sedikit-sedikit harus chat atasan, apalagi di jam-jam luar kerja, hanya karena nggak tahu dimana tempat folder kerjaan kemarin sore.

 

Gen Z juga dapat dikatakan sebagai sosok yang fresh. Sifat mereka yang selalu up-to-date dengan kondisi dunia dan terdigitalisasi membuat mereka selalu muncul dengan hal-hal baru.

 

Gen Z juga memiliki sifat yang inovatif dan kreatif. Dengan suasana digital yang mengharuskan mereka untuk selalu bergerak mengikuti alur teknologi, mereka cenderung memiliki tendensi untuk bergerak maju alih-alih bertahan di satu kondisi. Karenanya, mereka akan selalu mendorong dengan ide-ide baru yang sekiranya dapat meningkatkan kinerja lama atau bahkan sepenuhnya mengganti rutinitas yang tradisional untuk menjadi lebih mengikuti arus tren.

 

Seorang Gen Z juga dikenal sebagai generasi yang otentik. Tidak ada lagi hal-hal seperti sugarcoating maupun toxic positivity. Mereka termasuk generasi yang menyukai sifat-sifat terbuka (openness) dan cenderung konfrontatif, seorang whistleblower yang siap menunjuk kesalahan-kesalahan kecil demi memperbaiki kekurangan.

 

Apakah Sepadan Merekrut Gen Z?

 

Salah satu kekhawatiran perusahaan untuk hiring Gen Z adalah pertanyaan: worth it nggak nih? Pertanyaan ini mungkin muncul akibat Gen Z saat ini cenderung merupakan generasi-generasi muda. Rata-rata dari mereka adalah seorang fresh graduates atau entry-level dengan pengalaman yang cukup minim. Jadi, wajar apabila ada keraguan. 

 

Namun, mungkin para HR juga salah kaprah apabila mengira bahwa Gen Z yang berstatus ‘telur ceplok’ ini datang dengan tangan kosong. Dengan teknologi semakin canggih, angkatan telor ceplok ini juga banyak dibekali dengan kemampuan-kemampuan yang membuat mereka sudah mahir.

 

Hiring Gen Z atau Fresh Graduates termasuk ke dalam investasi yang dapat dilakukan oleh semua perusahaan.

 

Dikutip dari BBC, fresh graduates masih bisa saja jadi momok untuk perusahaan apabila mereka mengambil lulusan tanpa pengalaman kerja tersebut. Namun, kita perlu memahami juga ada hal-hal yang dapat membuat fresh graduates. Pada dasarnya, seorang fresh graduates memegang kata fresh yang berarti mereka siap dibentuk kapan saja. Setara dengan sifat seorang Gen Z yang memiliki eager to learn dan dapat memudahkan perusahaan untuk membentuk work culture yang diinginkan.

 

Untuk perusahaan yang mengedepankan inovasi dan perubahan, hiring fresh graduates menjadi sarana terbaik untuk memulai.

 

Seorang fresh graduate juga berperan dalam memperkuat koneksi dan brand perusahaan, termasuk dalam konteks work culture. Mereka dapat membantu untuk meningkatkan branding work culture yang terkesan lebih muda, mengedepankan semangat youth sebagai bagian dari lingkungan kantor. Ini berguna bagi perusahaan yang ingin memperluas pasar mereka ke generasi tertentu.

 

Terutama apabila membahas tentang social media, maka generasi inilah yang paling tepat untuk menjadi pemegang kunci media sosial perusahaan. Dengan Gen Z sebagai generasi terbesar pengguna media sosial, mereka dapat melakukan sensing market lebih baik dengan mengikuti trends yang sesuai dengan pasar mereka. 

 

Terakhir, membahas media sosial tidak lepas dari pegangan teknologi. Seperti yang telah dibahas di materi sebelumnya, teknologi memang menjadi kunci utama bagi para generasi yang mayoritas memang dibesarkan dengan giat teknologi. Khususnya dalam ranah pendidikan, mereka telah terbiasa untuk diwajibkan mengimplementasi konsep teknologi dalam pembelajaran mereka. Karenanya, banyak dari generasi ini yang sudah melek teknologi.

 

Dapat diambil kesimpulan bahwa mengambil fresh graduates bukan dianggap sebagai momok, melainkan hal yang dapat membantu perusahaan untuk lebih maju dan siap dalam menghadapi arus generasi baru yang dapat membantu mereka membentuk work culture yang baru juga. 

 

Bahayanya Toxic Work Culture

 

Di tahun 2015, Volkswagen Group ditemukan memprogram mobil diesel mereka untuk mencurangi tes emisi. Lebih dari 480.000 mobil ditarik dari penjualan, harga saham turun hampir 40%, dan nama VW selamanya tercoreng.

 

Penyebabnya? Work culture yang toxic.

 

Pimpinan di VW saat itu dikenal otoriter, kejam, dan menetapkan target yang tidak realistis. Ancaman dipecat adalah motivator utama. Ini pun membentuk budaya di mana karyawan lebih memilih melanggar hukum daripada menghadapi amarah atasan.

 

Jika dibangun dan dijaga dengan baik, work culture yang positif dapat menjadi kunci kesuksesan perusahaan Anda (lihat Bab 2).

 

Dark Tetrad of Human Personality, sisi gelap dari kepribadian manusia yang mengakibatkan toxic work culture.

Dark Tetrad, sisi kepribadian yang mengakibatkan toxic work culture.

 

Namun sebaliknya, work culture yang dibiarkan menjadi toxic adalah bahaya yang berasal dari dalam dan mengakibatkan:

 

  • Kinerja seluruh tim turun 40%

  • Karyawan yang baik ingin keluar

  • Orang lain ikut menjadi toxic

  • Employer brand tercoreng

  • Kerugian finansial hingga $50.000

 

Lalu, bagaimana cara mendeteksi dan mencegah toxic work culture dari dini?

 

Ciri-Ciri Toxic Work Culture

Work culture yang toxic dapat dipahami sebagai budaya kerja yang mendorong perilaku kerja kontraproduktif (counterproductive work behavior) dan mengambil berbagai wujud:

 

 

Mencegah Toxic Work Culture

 

Work culture dapat menjadi toxic mulai dari hal-hal terkecil jika dibiarkan. Candaan yang awalnya lucu akan membuat orang berpikir lagi sebelum mengutarakan ide di ruang meeting.

 

Mengapa mudah sekali untuk work culture menjadi toxic, dan sulit sekali untuk membentuk budaya kerja yang sehat?

 

Pengalaman buruk memang meninggalkan dampak yang lebih kuat pada ingatan manusia daripada pengalaman baik. Kita selalu ingat hal buruk yang menimpa kita, tetapi ketika ditanya tentang hal-hal baik yang terjadi, kita harus berusaha mengingat dahulu.

 

Karena ini, para pemimpin perusahaan harus aktif mencegah kecenderungan toxic dalam work culture sebelum mengakar ke dalam seluruh perusahaan seperti di kasus Volkswagen.

 

Tidak Mentoleransi Perilaku Toxic

Baik sengaja atau tidak, mentoleransi perilaku toxic sama dengan memperbolehkannya dan mendorong orang lain untuk mengikuti. Ketika menghadapi bibit work culture yang toxic, seperti candaan yang beririsan bullying, segera maju dan disiplinkan sehingga semua orang paham bahwa perilaku tersebut tidak ditoleransi.

 

Melepas Orang Toxic

Ketika peringatan, perlatihan, dan disiplin tidak dapat memperbaiki seorang karyawan yang toxic, inilah waktunya untuk melepas hubungan. Studi oleh Harvard Business School menemukan bahwa kerugian dari menyimpan orang toxic lebih besar dibandingkan keuntungan dari merekrut talent berkualitas.

 

Lebih menguntungkan untuk melepas 1 orang toxic dibandingkan merekrut 1 talent terbaik.

 

Hindari Merekrut Orang Toxic

 

Dengan asesmen psikometri yang akurat, kita dapat mendeteksi kandidat yang berpotensi toxic dan menghindarinya dari awal proses rekrutmen, juga mencegah orang toxic dari mencapai posisi kepemimpinan yang tinggi. Dengan asesmen seperti Dreamtalent, kita dapat mengenali, mendeteksi, dan mengatasi perilaku toxic guna menjaga work culture yang positif bagi perusahaan.

 

Hustle Culture

 

Tidak jauh dari toxic culture, hustle culture merupakan aspek tersembunyi dari work culture yang patut dibahas.

 

Memiliki tingkat produktivitas yang tinggi merupakan impian semua karyawan. Hal ini dilakukan untuk membuat standar diri sendiri bahwa karyawan tersebut telah mengerjakan pekerjaan mereka dengan baik dan maksimal. Akan tetapi, mengejar tingkat produktivitas yang tinggi sehingga mengorbankan waktu pribadi bisa menjadi suatu hal yang tidak sehat. Hal ini bisa dikaitkan dengan hustle culture.

 

Kata hustle sendiri berasal dari bahasa Inggris yang memiliki beberapa definisi. Untuk konteks yang akan dibahas, kata hustle memiliki arti “berusaha keras dalam hal seputar uang atau bisnis”.

 

Direktur 4 Day Week Campaign, Joe Ryle, mendefinisikan hustle culture sebagai sebuah fenomena gaya hidup yang membuat para individu yang mengerjakannya melakukan pekerjaan secara terus-menerus sehingga tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk menikmati hidup. 

 

Ini adalah gaya hidup yang memprioritaskan karier di atas kehidupan yang dimiliki.

 

Secara tidak langsung, hustle culture membuat karyawan memiliki pola pikir untuk menggunakan hampir seluruh waktu yang dimiliki untuk bekerja. Bahkan, tidak jarang jika para karyawan merelakan waktu tidur mereka hanya untuk bekerja.

 

Dalam kasus terparah, karyawan akan merasa bersalah saat mengambil waktu sejenak untuk beristirahat dan memperlakukan tubuh mereka seperti mesin.

 

Fenomena ini juga menyebabkan beberapa orang berpikir bahwa indikator kesuksesan diukur dari seberapa berat pekerjaan yang dimiliki, sehingga kesibukan menjadi hal yang krusial dalam kehidupan sehari-hari.

 

Selain itu, terdapat juga efek samping dari fenomena yang membuat para karyawan bekerja terlalu keras, lebih darimana semestinya, antara lain:

 

  • Berpikir untuk selalu mengiyakan dalam mengerjakan tugas, memiliki andil dan peran dalam kepanitiaan, menghadiri semua rapat (bahkan yang tidak terlalu penting dan berhubungan dengan posisi di kantor) hanya untuk menghindari rasa dihakimi orang lain,

  • Merasa bersalah untuk mengambil cuti, izin sakit, atau bahkan istirahat,

  • Menjawab semua panggilan telepon, email, atau bahkan chat setelah jam kerja dan weekend,

  • Memaksakan diri sendiri untuk tetap bekerja hanya demi produktivitas,

  • Menjadi awal dari burnout,

  • Menumbuhkan bibit persaingan tidak sehat antar karyawan.

 

(Baca juga: Produktif atau Toxic Productivity?)

 

Sebagai pemimpin HR atau perusahaan, kita dapat mencegah dan mengatasi hustle culture dengan mengingatkan karyawan akan hal berikut:

 

  • Mulai bertanya pada diri sendiri. Memperhatikan kebutuhan fisik, mental, dan emosional dapat menjadi langkah awal untuk mengubah diri untuk tidak selalu memaksakan diri untuk bekerja secara konstan dalam jangka waktu yang lama.

  • Memiliki definisi mengenai hari ideal menurut diri. Memahami cara bagaimana ingin mengatur waktu, dan apakah waktu yang dimiliki tidak habis hanya untuk bekerja saja.

  • Memberikan waktu istirahat untuk pikiran. Bekerja untuk waktu yang lama dapat membuat fisik merasa kelelahan. Istirahatkan diri dengan cara mengambil waktu sejenak sebelum kembali melanjutkan pekerjaan.

  • Memahami bahwa waktu istirahat bukan sebuah reward. Pemahaman bahwa waktu istirahat adalah sebuah hadiah yang harus dibayar dengan kerasnya bekerja bukanlah suatu hal yang baik. Karyawan memiliki hak untuk beristirahat saat telah merasa lelah, baik dari sisi fisik, mental, maupun emosional.

 

4 Tipe Work Culture

 

Terdapat 4 tipe budaya perusahaan yang utama, yaitu: community, innovators, champions, dan systematic.

 

Tipe budaya perusahaan yang dibagi menjadi 4: community, innovators, systematic, champion

 

Community

 

Salah satu ciri yang paling mencolok dari tipe budaya perusahaan ini adalah budaya yang berbasis kekeluargaan. Ciri-ciri lain yang membedakan jenis budaya ini dengan jenis budaya lain, adalah:

 

  • Nilai dan tujuan yang dijunjung bersama.

  • Perpaduan antara masing-masing karyawan.

  • Partisipasi yang dilakukan tiap karyawan.

  • Rasa kekeluargaan.

  • Kekerjasamaan.

  • Komitmen yang dilakukan perusahaan untuk karyawan.

 

Gaya kepemimpinan dari jenis budaya ini adalah sifat pemimpin yang menyerupai mentor. Tidak jarang jika karyawan menganggap pemimpin sebagai figur orang tua. Kriteria kesuksesan perusahaan dengan jenis budaya ini adalah lingkungan internal yang terbangun di antara para karyawan.

 

Adapun kelebihan dan kekurangan dari jenis budaya ini, adalah:

 

Kelebihan

  • Team suka bekerjasama.

  • Komunikasi terbuka dan efektif.

  • Semangat karyawan relatif tinggi.

  • Perkembangan di pasaran relatif tinggi.

Kekurangan

  • Kesulitan saat bisnis mulai berkembang.

  • Sistem kepemimpinan horizontal; career path tidak jelas.

  • Karyawan sering berkolaborasi; produktivitas kurang optimal.

  • Kesulitan mengambil keputusan karena mementingkan perasaan orang lain.

 

Innovators

 

Perusahaan dengan jenis budaya ini merupakan jenis budaya yang mengedepankan sifat temporer, ahli, dan dinamis. Ciri-ciri lain yang membedakan jenis budaya ini dengan jenis budaya lain, adalah:

 

  • Struktur organisasi yang hampir tidak terlihat.

  • Tempat perusahaan yang nomaden.

  • Peran karyawan temporer.

  • Kreativitas dan inovasi.

 

Ciri pemimpin yang cocok dengan jenis budaya perusahaan ini adalah pemimpin dengan visi, inovasi, dan keberanian untuk mengambil resiko.  Kriteria kesuksesan perusahaan dapat diukur dengan seberapa tinggi angka produk bersifat orisinil dan inovatif yang telah dihasilkan perusahaan.

 

Adapun kelebihan dan kekurangan dari jenis budaya ini, adalah:

 

Kelebihan

  • Tingkat reward sepadan dengan tingkat resiko yang ada.

  • Karyawan termotivasi untuk kreatif dan inovatif.

  • Karyawan didukung untuk menciptakan ide baru.

  • Karyawan berkemungkinan untuk berinvestasi untuk pengembangan diri.

Kekurangan

  • Stabilitas rendah karena banyaknya angka project yang ada.

  • Kecenderungan project yang dilakukan tinggi; merugikan perusahaan.

  • Karyawan tingkat bawah merasa terbebani dengan jumlah pekerjaan yang ada.

  • Kompetisi antar karyawan; tendensi untuk menyabotase satu sama lain.

 

Champions

 

Jenis budaya perusahaan ini berfokus kepada permintaan yang ada di pasaran. Ciri-ciri lain yang membedakan jenis budaya ini dengan jenis budaya lain, adalah:

 

  • Persaingan dari pihak eksternal.

  • Tuntutan konsumen yang tinggi dan hanya peduli dengan harga/nilai.

  • Rasa kompetitif yang dibangun oleh perusahaan (jabatan, posisi, wewenang)

  • Objektif perusahaan berfokus kepada hasil, tingkat produktivitas, dan keuntungan.

 

Kepemimpinan di perusahaan dengan jenis budaya ini berlandaskan kerja keras, dan kompetitif, dan kriteria kesuksesan perusahaan diukur dengan banyaknya hasil keuntungan yang dicapai.

 

Adapun kelebihan dan kekurangan dari jenis budaya ini, adalah:

 

Kelebihan

  • Antusiasme karyawan tinggi saat melakukan pekerjaan.

  • Rasa kompetitif mendorong karyawan untuk bekerja keras.

  • Keuntungan menjadi tujuan bersama (perusahaan dan karyawan).

  • Tendensi sukses dan tingkat keuntungan tinggi.

Kekurangan

  • Kesulitan mengambil keputusan; selalu mempertimbangkan keuntungan dan dana.

  • Lingkungan kerja toxic karena karyawan kompetitif.

  • Tingkatan stres karyawan tinggi karena tuntutan pekerjaan.

  • Burn out saat tuntutan mencapai target perusahaan.

 

Systematic

 

Jenis budaya ini didasari dengan tujuh sifat, yang juga menjadi sifat dasar dari sebuah birokrasi, yaitu: peraturan, keahlian, meritokrasi, hirarki, kepemilikan terpisah, impersonalitas, dan pertanggungjawaban. Ciri-ciri lain yang membedakan jenis budaya ini dengan jenis budaya lain, adalah:

 

  • Tempat kerja yang jelas secara fisik.

  • Atasan memerintah hal yang harus dilakukan bawahan.

  • Pemimpin dianggap efektif saat bisa mengkoordinasi dengan baik.

  • Tujuan jangka panjang perusahaan menyangkut stabilitas, efisiensi, dan kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.

 

Adapun kelebihan dan kekurangan dari jenis budaya ini, adalah:

 

Kelebihan

  • Perusahaan stabil karena bersifat konservatif.

  • Proses kerja perusahaan ada untuk mencapai tujuan.

  • Perusahaan memiliki ekspektasi yang pasti terhadap pekerjaan karyawan.

  • Karyawan memiliki rasa aman perihal kondisi pekerjaan yang mudah diprediksi.

Kekurangan

  • Lingkungan kerja kurang fleksibel; prosedur lebih penting daripada kesejahteraan SDM.

  • Inovasi buka prioritas; sulit berkembang.

  • Kesulitan beradaptasi dengan pasar.

  • Antusias karyawan rendah karena kedudukan perusahaan ada di atas SDM.

 

Membentuk & Mengubah Work Culture

Menciptakan Lingkungan Kerja yang Sehat dan Aman

 

Menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman bagi karyawan merupakan kewajiban semua pihak di perusahaan. Meskipun begitu, menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman dimulai dengan mengikuti contoh pemimpin dalam menjalankan perusahaan.

 

Sebagai salah satu pihak yang memiliki wewenang yang lebih banyak dari karyawan lain, Anda dapat melakukan langkah-langkah yang bisa Anda lakukan untuk membuat lingkungan kerja yang sehat dan aman untuk semua pihak yang ada di dalamnya.

 

Memang betul bahwa kesuksesan dari transisi sebuah organisasi dapat diukur dengan kesempurnaan dan harmoni yang berjalan di tengah perusahaan. Akan tetapi, dalam melakukan hal ini, Anda tidak bisa melakukannya dengan cara yang ekstrem, sehingga menimbulkan kesan keterpaksaan yang memberatkan karyawan.

 

Lakukan sedikit demi sedikit, sehingga karyawan pun dapat melihat usaha perusahaan dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman.

Nihilnya usaha perusahaan dalam mencapai tujuan tersebut akan menimbulkan kesan bahwa perusahaan tidak memiliki keinginan untuk menciptakan sebuah lingkungan yang inklusif. 

 

Adapun langkah-langkah yang bisa Anda ikuti sebagai pemimpin, adalah:

 

Kenali Masalah yang Dihadapi

 

Setiap perusahaan memiliki masalah yang berbeda. Maka dari itu, kenali terlebih dahulu masalah apa yang dihadapi oleh perusahaan Anda. Sehingga, langkah yang diambil akan tepat sasaran tanpa menimbulkan masalah lainnya.

 

Agar mendapatkan komitmen jangka panjang karyawan terhadap perusahaan, tanamkan terlebih dulu keinginan akan perubahan di masing-masing pihak. Jika hanya pemimpin yang ingin mengubah lingkungan kerja menjadi lebih baik lagi, tanpa keinginan dari diri karyawan itu sendiri, maka usaha yang dilakukan akan menjadi sia-sia.

 

Merayakan Pencapaian yang Diraih oleh Tim

 

Sekecil apa pun, pencapaian yang diraih oleh tim merupakan hal yang patut dirayakan. Hal ini dilakukan demi menunjukkan apresiasi perusahaan terhadap kerja keras yang telah ditunjukkan oleh karyawan terhadap perusahaan.

Anda bisa melakukan hal ini dengan memberikan pujian secara verbal, memberikan feedback yang membangun, dan memberikan hadiah-hadiah kecil bagi karyawan yang telah melakukan hal yang terbaik. Akan tetapi, hal yang paling krusial dalam menunjukkan apresiasi perusahaan kepada karyawan adalah dengan menunjukkan rasa terima kasih atas usaha dan kerja keras mereka.

 

Memanfaatkan Network

 

Dalam dunia kerja, network merupakan salah satu hal yang penting dalam proses melakukan pekerjaan yang membutuhkan banyak pihak. Membangun hubungan dengan berbagai pihak yang ada di dalam perusahaan dapat memudahkan perusahaan dalam mencapai tujuan. Selain itu, menyatukan banyak pihak dalam sebuah tujuan yang sama dapat membantu perusahaan dalam menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.

 

Pemimpin perusahaan dapat melakukan hal ini dengan ikut serta dalam mengambil andil dalam melakukan proses pekerjaan secara aktif. Hal ini akan menimbulkan kesan bahwa perusahaan tidak hanya bisa untuk memerintah saja, tetapi juga memimpin karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan dan mencapai tujuan bersama.

 

Asesmen Psikometri Untuk Work Culture

 

Sebagai pimpinan HR, mengenali work culture menjadi lebih penting dalam konteks rekrutmen, terutama dalam mencari kandidat yang sesuai dengan budaya kerja unik setiap perusahaan.

 

Dengan screening dan asesmen psikometri seperti Dreamtalent, recruiter dapat mengenali karyawan yang paling cocok dengan work culture (dan menghindari karyawan yang berpotensi toxic) guna membangun budaya kerja yang positif dan kuat.

Related Blog

Yehezkiel Faoma Taslim - 10 Jan 2020